Ranking Satu (dari Belakang)

Updated: Jan 25, 2025
Dulu aku termasuk anak yang terbilang males dalam menimba ilmu. Sakin malesnya pas TK-pun aku sampai nyontek buat cari jawaban dikte. Guru TK sampai gregetan dan setelah beberapa kejadian aku dijauhkan anak-anak lain karena inisiatifku untuk mencari jawaban dikte. Entah kenapa aku ga pernah nyantol dengan pelajaran dulu. Aku terlalu sibuk dengan imajinasiku yang lebih menyenangkan daripada pelajaran. Sampai-sampai pas aku kelas satu aku benar-benar buta soal menulis dan ahkirnya banyak sekali nilaiku yang telor bebek.
Waktu ke waktu aku mulai bisa menulis tapi lain sisi setiap aku menjawab soal. Jawabanku berisikan imajinasiku terhadap soal tersebut. Contoh salah satunya aku teringat ketika aku ada ulangan agama. Saat itu pertanyaannya sangat mudah "Adam dan Hawa tinggal di?" Anak yang beriman dan rajin beribadah pasti tahu betul apa jawabannya. Namun aku lebih memilih jawaban logis yang sampai saat ini menurutku jawaban itu seharusnya tidaklah salah. "Adam dan Hawa tinggal di? Rumah" Ketika aku menjawab pertanyaan itu sebagai anak kelas 1 SD aku yakin itu adalah jawabannya adalah Rumah. Aku berpikir setiap orang pasti tinggal dirumah kalo engga dimana lagi? Pikirku sebagai anak kelas 1 SD yang polos. Setelah di bagi hasilnya aku kesal kenapa jawabku salah dan aku ingat sekali mamaku saat itu tertawa dengan jawaban yang aku punya.
Sakin bodohnya di SD pada saat itu. Aku sampai tidak sadar bahwa aku mendapat ranking paling rendah di kelas yaitu ranking 36. Aku saat itu terpikir bahwa saat itu aku adalah murid terpintar ke kelas dan aku sangat membanggakan hal tersebut. Sekali ketika aku pulang sekolah di depan gerbang banyak orangtua yang membahas mengenai ranking anaknya masing-masing. Ketika itu ada satu tante menanyakkan kepadaku, kebetulan tante tersebut tahu betul jumlah murid setiap kelasnya "De, kamu dapet ranking berapa?", "Ranking 36 tante" dengan lantang dan bangga. Ketika aku mengatakan hal itu tante tersebut terkejut dan aku tetap bangga dengan pernyataanku. Ku pikir tante tersebut terkejut karena kepintaranku ternyata waktu ke waktu aku mulai mengetahui kebenarannya. Bahwa aku murid terbodoh saat itu. Dari ranking tersebut tentu aku tidak naik kelas, aku tidak menyadari hal tersebut sampai aku mendapatkan raport kelas 1 yang sama sebanyak dua kali.
Dulu aku sangat bingung akan kebodohan yang ku punya. Bahkan aku berpikir bahwa diriku ini tidak akan bisa lanjut pendidikan karena dari SD saja aku sudah tidak ada niatan untuk belajar seperti teman-teman yang lain. Sampai-sampai aku berpikir, kelas satu aku 2 tahun, kelas dua 2 tahun, begitu terus karena aku berpikir begitu bodohnya aku. Tapi syukur kepada Allah, karena semua tidak terjadi sesuai pemikiranku. Tuhan tetap menopangku selalu dan ahkirnya aku saat ini tetap bisa lanjut kuliah di BINUS dimana sebenernya aku pengennya ke Universitas Indonesia hahaha. Tapi begitulah hidup tidak ada yang pasti. Maka dari itu penting sekali untuk dekat kepada Tuhan. Karena dalam ketidakpastian hidup ini Tuhanlah yang akan selalu membimbing kita, asalkan kita sendiri mau percaya sama karya keselamatananya. Kalau aku ingat-ingat lagi kisah ini, aku bersyukur karena boleh mengalami pengalaman seperti ini karena dari pengalaman tersebut, aku bisa menceritakan kepada siapapun yang membaca ini hahaha.

Comments