Cerita, Curhat, Keluhan


Aku iri dengan teman-temanku. Mereka yang bisa bercerita dengan baik dan orang yang mendengarkannya seolah-olah penasaran dengan kelanjutan dari cerita tersebut. aku iri, karena orang bisa meluapkan emosinya. Kalau dia kesal, dia akan marah. Kalau sedih, dia akan bercerita tanpa harus merasa malu. Ada masanya aku merasa diriku tidak punya kemampuan untuk bercerita bahkan meluapkan emosiku ketika aku membutuhkan seseorang.
Dalam ruang lingkup keluarga. Keluargaku cenderung tertutup ketika menghadapi suatu masalah. Biasanya, masalah tersebut akan ter-expose dengan luapan emosi amarah yang sudah tertimbun sejak lama dan ahkirnya masalah tersebut berhenti begitu saja tanpa adanya penyelesaian. Elu orang pasti sering denger, "Orang sabar biasanya kalau marah serem.." itu mungkin terjadi di setiap keluarga yang terbiasa menahan diri dan ketika pikirannya sudah penuh, dia akan meledak tanpa alasan yang jelas.
Saat aku masih SMP, sekolah mengadakan acara retreat yang saat itu dipimpin oleh tim PD (Persekutuan Doa). Dalam retreat tersebut biasanya akan ada sesi curhat. Dimana kita bisa bicara empat mata dengan salah satu tim PD, dan menceritakan keluh kesah yang kita miliki. Saat itu aku mendapat kesempatan untuk bercerita kepada satu tante. Ketika aku memulai cerita, aku ingat sekali aku hanya bisa menangis. Saat itu aku kesulitan untuk mengucapkan kata demi kata. Mengucapkan satu kata saja, sudah terasa berat sekali bagiku. Setiap kata atau kalimat terucap, air mataku mengalir deras dan ahkirnya aku hanya bisa menangis. Tante tersebut cukup mendengarkanku tanpa berkomentar apapun. Setelah itu, dia menitipkan pesan kalau Tuhan sungguh baik dan dia mencintai semua orang termasuk diriku. Sesi tersebut diahkiri dengan berdoa bersama.
Dari satu peristiwa tersebut aku menyadari, bahwa betapa sulitnya diriku bercerita. Aku merasa, keluh kesahku selalu terasa tabu dan merasa kalau oranglain memiliki masalah lebih besar dari diriku. Setiap kali aku mencoba untuk bercerita atau menjelaskan sesuatu, yang kudapatkan adalah pandangan sebelah mata, atau sibuk dengan smartphone ,atau bahkan orang-orang akan memotong ceritaku karena mereka memiliki hal lebih penting daripada ceritaku. Saat itu aku beranggapan, bahwa aku dapat bercerita keluhkesahku secara sepenuhnya hanya ketika adanya sesi curhat ,dan yang mendengarkanku adalah orang-orang yang dari awal sudah tahu, kalau tugas mereka adalah mendengarkan dan mendoakan. Tapi.. apakah artinya aku hanya bisa didengarkan secara utuh ketika aku masuk kedalam sesi curhat saja??
Tidak semua orang bisa bercerita dengan luwes. Ada orang yang perlu di sengol-sengol dulu, ada yang perlu disertai dengan tangisan (aku hehe), adapun juga yang perlu disertai seperti minuman ataupun seisap rokok. Orang-orang yang kesulitan untuk bercerita membutuhkan usaha dan sudah seharusnya kita menghargai usaha mereka untuk terbuka, apalagi kalau ternyata kita adalah orang yang mereka percaya untuk terbuka.
Suatu malam, diriku bertemu dengan satu teman di satu cafe. Saat itu aku ingin terbuka kepadanya, karena aku percaya dia bisa mendengarkan ceritaku dengan baik. Saat diriku berceritakan keluh kesah, temanku memotong begitu saja dengan kalimat "Ya cad elu mah gitu doang, LAH GUA..." Paling lelah sekali untuk mendengarkan respon orang yang selalu ngomong "ELU MENDING.., LAH GUA.." apalagi dipotong ditengah kita sedang asik bercerita. (Ini akan kukeluhkan di lain kesempatan hehe)
Betapa sedihnya ketika era yang semakin canggih ini, kemampuan orang mendengarkan semakin rendah. Seringkali aku melihat sebuah keluarga sedang duduk manis di satu cafe. Dimana orangtuanya sedang asik sekali bermain smartphone dan anaknya hanya planga-plongo. Anaknya ingin bercerita kepada orangtuanya. Namun seringkali respon yang didapatkan "Iya" "Ehem" "Aha" dan apala itu. Mungkin anak-anak itu juga akan menjadi generasi selanjutnya yang sulit untuk terbuka terhadap masalahnya karena dari keluarga saja sudah tidak mendapatkan keterbukaan dalam bercerita.
Sesimple kita menyimak cerita orang dan menerima keluhkesah orang, tanpa berkomentar yang bermacam-macam menurutku sudahlah cukup sekali untuk kita bisa menjadi pendengar yang baik. Puji Tuhan aku menemukan kawan yang bisa mendengar keluh kesahku dan membuatku sehat secara mental
Masalahnya emang tidak selesai dengan sebuah cerita. Tapi, cerita bisa menguatkan serta menyegarkan pikiran orang yang tengah menghadapi sebuah masalah.
“There is as much wisdom in listening as there is in speaking – and that goes for all relationships, not just romantic ones.” Daniel Dae Kim

Comments