“Cinta Tanpa Syarat”

Pernah dengar istilah ini, nggak?
Kata-kata yang terasa seperti omong kosong di era sekarang ini. Apakah mungkin cinta tanpa syarat ini bisa terjadi? Tentu di sekitar kita, bahkan dalam keluarga, bentuk “cinta” seperti ini sering kali memiliki syarat-syarat tertentu supaya kita bisa dekat dengan orang-orang tersebut. Tetapi, hal ini berbeda dengan perspektif Tuhan. Tuhan memandangku apa adanya dan Dia tetap mencintaiku sebagaimana aku. Biarpun begitu, rasanya kata-kata tentang cinta Tuhan ini terasa nonsense (awalnya).
Ketika aku sedang mencoba merenungkan itu dalam doa, aku membayangkan situasi saat aku sedang bersama Yesus di bangku taman (mungkin kalian sering melihat gambar tersebut dan aku adalah salah satunya, HAHAHA). Ketika itu, aku mengeluh kepada-Nya:
“Tuhan, aku merasa tidak layak di hadapan-Mu.”
Lalu Tuhan menjawab, “Biarpun kamu tidak merasa layak, Aku mencintaimu.”
Lalu aku menjawab, “Bagaimana mungkin Engkau bisa mencintaiku? Banyak sekali dosaku, Tuhan.”
Tuhan berkata, “Sekalipun begitu, Aku tetap mencintaimu.”
Aku terdiam, lalu menyebutkan berbagai dosa dan rasa tidak layakku kepada-Nya, dan Dia tetap berkata, “Apa pun keluhanmu, sekotor dan setidaklayak apa pun pandanganmu pada dirimu sendiri, Aku tetap mencintaimu.”
Setelah itu, aku hanya bisa menangis. Aku sadar betul bahwa Tuhan tidak pernah memandang diriku sekotor itu. Hanya aku yang memandang diriku demikian, dan Tuhan selalu berusaha meluruskan cara pandangku yang hina ini. Lalu muncul pertanyaan baru dalam benakku: “Kalau cinta-Nya Tuhan sebesar, seluas, sedalam, dan setinggi itu, lalu kenapa aku tetap jahat sama Dia? Kenapa aku terus menyakiti Dia saat Dia tetap terus berkata, ‘Aku mencintaimu’?” Pemikiran itu membuatku terpukul dan sadar bahwa selama ini aku dibutakan oleh kebencian dan hal-hal nikmat dunia yang hanya membawaku menjauh dari jalan Tuhan.
Pemikiran seperti itu juga memberikanku pemahaman bahwa ketika aku merasakan betul cinta Tuhan, yang ada di pikiranku hanya akan ada cinta: “Apa, ya, yang bisa gue lakukan buat orang yang kukasihi?” Karena cinta Tuhan ini tak terbatas, dan ketidakterbatasan itulah yang membuat berbagai kebaikan yang kita buat menjadi tidak mustahil.
Biarpun aku mendapatkan pemahaman ini, tentu diriku masih berproses di dalamnya dan kuyakin prosesnya panjang. Percakapan bersama Tuhan ini akan selalu kulakukan saat diriku sedang tidak baik-baik saja. Semoga teman-teman lain bisa merasakan berkat yang sama. Amin.


Comments