Diam

Diam. Itu yang kubutuhkan di beberapa waktu.
Diam ini membantuku menyegarkan pikiran, jiwa, dan raga.
Diam ini benar-benar diam ya. Maksudku, banyak orang terlihat diam, tapi pikirannya tetap sibuk—tangannya terlalu asik menggeser sosmed.
Banyak orang diam. Tapi tidak benar-benar memanfaatkan waktu diamnya dengan baik. Aku pun demikian.
Sering kali aku mendapat respon saat lagi diam,
“Hei napa lu bengong? Nanti kesurupan loh.”
Seolah-olah diam—atau bengong—membuat pintu jiwa kita bisa dimasuki siapa saja, terutama setan.
Padahal buatku, bengong justru dibutuhkan.
Bukan sekadar diam, tapi bengong dengan sadar. Ngerti gak? Hahaha
Apalagi di era digital, yang terus mendorong kita untuk tidak bengong sama sekali.
Era sekarang tuh seolah menyuruh kita buat “berpikir” terus.
Tapi berpikir ini bukan mikirin diri sendiri.
Kita justru dipaksa mikirin orang lain, peristiwa, atau pencapaian teman di sekitar kita.
Ketika kita diam, lalu bengong dengan maksud mengolah segala perasaan di hati, hal itu sering terlihat aneh. Bahkan seakan-akan kita sedang berada di masalah serius—hanya karena kita bengong.
Tapi ya sudah sih.
Siapa tahu, orang yang diam itu emang lagi kenapa-kenapa,
dan berharap di ajak berkomunikasi sama orang lain.


Comments