top of page
Search

“Masih ingat aku ga mak?”

Writer: Richard Wijaya
Richard Wijaya
Jan 23, 2023
3 min read

Ada moment dimana aku merindukan nenek dari papaku. Seseorang yang menemani masa kecilku ketika orangtuaku biasanya pergi kesuatu tempat dan meninggalkan anaknya dirumah bersama nenek tercinta. Nenekku ini dahulu suka sekali memanjat pohon dan suka sekali menguyah daun siri yang membuat giginya awet dan tidak seperti kebanyakan kakek nenek lainnya yang giginya sudah ompong. Nenekku biasanya suka sekali memberikanku biskuit kayu manis jahe atau rumput laut atau bahkan uang yang menjadi kesukaanku dan harapanku setiap aku menghampiri nenekku. Banyak moment yang terjadi, sampai akhirnya ketika aku beranjak SMP disaat nenekku perlahan-lahan mulai jarang datang kerumahku.


Nenekku tinggal bersama saudara papa yang rumahnya cukup berdekatan dengan rumahku. Di beberapa kesempatan papaku akan menghampiri kesana untuk bertemu sapa. Ada suatu moment ketika aku sedang bersepeda lalu-lalang, aku terpikir untuk menghampiri rumah sodaraku untuk bertemu dengan nenekku. Sesampainya disana, aku datang dan aku berkata aku ingin bertemu dengan nenek. Panggilanku untuk memanggil nenek adalah “emak”. Padahal “emak” itu artinya ibu atau mama tapi entah mengapa aku dari kecil diajarkan untuk memanggilnya “emak”. Biasanya ketika bertemu dia sedang duduk santai di kasur sambil menonton TV. Ketika aku bertemu dengan nenekku. Topik pertama yang akan selalu ditanyakan sodaraku adalah “Masih inget gak dia siapa?”, “ia mak masih ingat aku ga mak?“ sahut diriku, “Ini anaknya dari si ini” kata sodaraku. Setelah itu biasanya nenekku langsung mengingat “Ohh, ini si Recatt” begitulah aku mendengarnya. Ketika bertemu aku biasanya mendengar apa yang nenekku katakan. Atau kalau tidak berbicara, biasanya aku akan diam saja. Namun buat diriku berjumpa dengan nenekku sudah menjadi kerinduan yang terlampiaskan. Ketika bertemu tentu nenekku melakukan kebiasaan yang sama seperti sebelum-sebelumnya seperti memberikanku makanan atau uang jajan. Pada saat terakhir aku mengingat nenekku memberikan uang jajan. Aku sempat menolak namun sodaraku mengatakan, “sudah terima saja, emang udah jadi kebiasaan dia memberi itu”. Ahkirnya aku menerimanya. Setelah itu beberapa waktu kemudian aku pergi kembali untuk berputar-putar bermain sepeda, aku teringat akan perasaan senangku ketika berjumpa kembali dengan nenekku. Pada saat itu aku berharap jika ada waktu sepeda-sepeda lulu-lalang lagi aku bisa menghampirinya kembali. Setelah itu aku teringat ada 1-2 kali aku datang kembali menghampiri dan setelah itu aku sudah tidak mengujunginya lagi mendengar bahwa nenekku pindah kerumah saudara papa yang lain.


Beberapa waktu terlalu berlalu, dan aku teringat ketika aku masuk ke bangku SMA. Ada beberapa kali kesempatan aku bersama keluarga menghampiri nenekku yang tinggal bersama saudara yang lain. Biasanya ketika berjumpa dengan nenekku dia sedang duduk santai dan asik mengupas sayur-sayuran untuk dimasak setelahnya. Ketika aku berjumpa dengan nenek topik pertama itu selalu menjadi topik yang tak tergantikan “Masih inget gak dia siapa?”, “Ini anaknya dari si ini”. Terkadang nenekku lupa, terkadang dia ingat “Oh, ini Recattt”. Ada juga ketika bertemu sapa kembali, nenekku langsung ingat siapa diriku. Bertemu sapa yang terlihat simple tapi akan selalu menjadi sesuatu yang kurindukan setiap berjumpa dengannya. Ada beberapa kali kesempatan aku atau ciciku akan menginap untuk menemani nenekku disaat saudaraku pergi. Biasanya aku akan benar-benar seharian disana sambil menonton TV atau bermain game dan juga mendengar apa yang nenekku ucapkan.


Setelah beberapa kali kesempatan itu, nenekku tinggal bersama saudaraku yang lain. Setelah itu aku hanya akan bertemu dia kalau tidak saat imlek, satu atau dua kali keluargaku akan kesana untuk bertemu dengan nenekku. Kali ini ketika berjumpa, aku melihat nenekku sudah berbaring dikasur. Setiap perjumpaan topiknya masih sama dan selalu sama, namun dengan nenekku mengingatku saja, aku sudah penuh syukur. Disana aku melihat kondisi nenekku yang mulai kurang membaik, sekarang dia hanya dapat berbaring dikasur dan membutuhkan bantuan orang untuk membantunya berjalan. Aku mulai merasa kuatir bahwa ternyata waktu sudah mulai menipis untuk berjumpa dengannya. Namun tentu jika terus dipikirkan itu hanya membuatku berjumpa dengan kesedihan ,bukan senang.


Beberapa waktu berlalu dan aku mendengarkan kabar bahwa nenekku kondisinya semakin memburuk yang membuatnya harus dilarikan kerumah sakit. Kabar itu tentu menjadi kabar sedih untuk diriku. Saat itu aku teringat aku mendapatkan kesempatan untuk berjaga dirumah sakit bersama dengan satu ART saudaraku. Aku terbaring dengan perasaan urang-aring, namun tentu aku menyadari bahwa cepat atau lambat aku harus menerima kejadian ini.


Esok harinya, pada 8 Januari 2018, sekitar jam 6 pagi aku dipanggil dokter untuk membicarakan kondisi nenekku yang sudah mencapai akhir hayat. Dokter menjelaskan kondisi nenekku sambil aku melihat detak jantungnya yang semakin menurun demi waktu. Setelah dokter selesai menjelaskan, aku mendengar suara EKG detak jantung nenekku yang berbunyi panjang seperti di kebanyakan sinetron atau film ketika karakter di film tersebut jantungnya berhenti. Sambil kejadian itu berlangsung dokter berkata pada diriku bahwa nenekku sudah tiada, dan langsung saja setelah itu aku keluar dan diam dalam keheningan yang amat pekat. Namun, melihat nenekku yang berjuang sampai ahkir mengingatkanku bahwa nanti, akupun juga akan mengalami hal demikian. Pada ahkirnya perpisahan haruslah terjadi, dan itu tidaklah sepenuhnya buruk. Tentu aku tidak bisa berjumpa dengan secara fisik. Namun aku tetap percaya ketika terus mendoakannya, diapun yang sudah berada disurga juga mendoakan diriku yang sedang berziarah di hidup ini. Mohon tolongan doanya untuk nenekku tercinta, Leistiana Widjaja. Amin

 
 
 

Recent Posts

See All
“Cinta Tanpa Syarat”

Pernah dengar istilah ini, nggak? Kata-kata yang terasa seperti omong kosong di era sekarang ini. Apakah mungkin cinta tanpa syarat ini bisa terjadi? Tentu di sekitar kita, bahkan dalam keluarga, bent

 
 
 
Diam

Diam. Itu yang kubutuhkan di beberapa waktu. Diam ini membantuku menyegarkan pikiran, jiwa, dan raga. Diam ini benar-benar diam ya. Maksudku, banyak orang terlihat diam, tapi pikirannya tetap sibuk—ta

 
 
 

Comments


Subscribe Form

Thanks for submitting!

©2020 by richardwijaya. Proudly created with Wix.com

bottom of page