top of page
Search

Media "Sosial"

Writer: Richard Wijaya
Richard Wijaya
Sep 3, 2022
2 min read

Suatu hari di hari kuliah, aku sedang berbincang-bincang dengan satu kakak kelas di suatu warteg. Dia mengeluh mengenai orang-orang yang berkomentar negatif pada dirinya setiap kali dia mengepost IG Story terbarunya. IG Storynya itu biasanya berisikan aktifitas dia di suatu tempat seperti berada di cafe, restaurant, atau tempat nongkrong-nongkrong yang tren saat ini. Dari IG Story tersebut selalu muncul perkataan tidak mengenakan dan bahkan terasa menyebalkan “Ih kok elu ga ngajak gue sih?” atau “Kok elu kesana tanpa ada gue?” dan berbagai komentar yang terasa menyebalkan di telinga atau dilihat dalam bentuk chat. Peristiwa yang kakak kelasku rasakan terasa familiar ditelingaku dan aku juga setuju dengan apa yang kakak kelasku rasakan itu.


Tapi peristiwa ini juga pernah kurasakan. Perasaan yang awalnya menganggap itu sebagai bentuk candaan saja tetapi lama-lama menjadi menyebalkan karena aku selalu mendapatkan respon seperti itu tidak hanya dari media sosial saja, tetapi beberapa kali setelah aku pergi dan bertemu, aku mendapatkan respon seperti itu. Hal tersebut membuat ku tersadar bahwa peristiwa ini tidak hanya terjadi pada diriku saja tetapi kepada orang-orang sekitarku juga terutama pada kakak kelasku. Rasanya malas sekali untuk diriku ini untuk memposting sesuatu di media sosial jika respon yang didapatkan itu hanya membuat diri kita kesal dan seolah-olah aku harus merasa guilty karena aku telah berbuat salah karena tidak mengajak atau mengingat mereka. Lain sisi peristiwa ini selalu terjadi kalau aku emang ingin pergi sendiri atau pergi dengan yang lainnya.


Media sosial yang awalnya emang untuk menjangkau orang secara luas ini juga dipakai untuk “memantau” juga teman-teman kita dimanapun mereka berada. Memantau ini bukanlah hal yang salah, namun seringkali respon yang diberikanlah itu yang menururtku perlu menjadi refleksi atau setidaknya kita perlu sadari bahwa perkataan seperti ini yang awalnya cuma bercanda lama-lama menjadi menyebalkan. Aku yang mendapatkan respon seperti itu membuatku terus berpikir-berpikir dan berpikir lagi. “Aku mau kesana, kalau aku ajak A, B senang ga ya, kalau aku ajak A dan B, berarti aku harus ajak semuanya.” Pikiran ini emang berasal dari kesalahanku, rasa takut yang terus kutanam hingga akhirnya aku sendiri tidak berani untuk melakukan apa yang kuinginkan dan terus merasa terikat oleh beberapa orang jika aku tidak pergi bersama dengan mereka.


Pada ahkirnya ini emang menjadi bahan refleksi untuk diriku sendiri. PR bagi diriku untuk mau jujur dengan diri sendiri dan belajar untuk tidak mempedulikan perkataan orang-orang. Ketika aku mendapatkan respon ini sekarang, pilihanku hanyalah senyumi saja atau tidak hanya sekedar respon singkat terhadap respon yang mereka berikan baik dalam bentuk chat ataupun percakapan. Rasanya ketika kita bertemu atau mengetahui teman kita sedang pergi kemana lebih indah kalau kita merespon mereka secara baik dan mendengarkan cerita perjalanan atau aktifitas yang mereka lakukan.

 
 
 

Recent Posts

See All
“Cinta Tanpa Syarat”

Pernah dengar istilah ini, nggak? Kata-kata yang terasa seperti omong kosong di era sekarang ini. Apakah mungkin cinta tanpa syarat ini bisa terjadi? Tentu di sekitar kita, bahkan dalam keluarga, bent

 
 
 
Diam

Diam. Itu yang kubutuhkan di beberapa waktu. Diam ini membantuku menyegarkan pikiran, jiwa, dan raga. Diam ini benar-benar diam ya. Maksudku, banyak orang terlihat diam, tapi pikirannya tetap sibuk—ta

 
 
 

Comments


Subscribe Form

Thanks for submitting!

©2020 by richardwijaya. Proudly created with Wix.com

bottom of page