Gaji Pertama

Updated: Jan 25, 2025
Dari aku SMP-SMA aku sudah mulai berpikir bagaimana cara mencari uang. Tujuannya? Jelas supaya aku bisa membeli barang-barang yang aku ingini. Semakin tua diriku ini semakin aku merasa tidak enak jika aku terus meminta uang kepada orangtuaku. Aku merasa setidaknya sebelum umurku 20 tahun, aku sudah bisa mendapatkan uang dan tidak mengandalkan uang orangtuaku lagi.
Pada saat liburan SMP/SMA aku lupa. Aku diajak bekerja oleh salah satu teman untuk bekerja di toko bangunan papanya. Setelah aku tahu gaji yang kudapat dan berapa lama aku bekerja, aku mulai diskusi dengan mamaku. Kata mama "Yah, kamu coba-coba aja lumayan pengalaman". Dari situ ahkirnya aku mulai mencoba. Ketika aku bekerja disitu tugas awalku adalah mengenal terlebih dahulu barang-barang yang ada disana. Seperti cat, tiner, pasir, paku ukuran berapa dan lain-lainnya. Setelah itu aku menulis nota untuk setiap barang ya dibeli. Setelah itu, kalau tidak ada pelanggan ya sudah aku bengong saja sambil main HP.
Setelah seminggu telah berlalu. Aku mendapat kabar dari temen untuk tidak bekerja lagi dikarenakan kondisi toko yang pada saat itu sepi ditambah orang-orang pada saat itu sedang merayakan idul fitri sehingga proyek bangunan juga saat itu banyak yang ditunda. Singkat cerita aku mendapatkan gaji dari pekerjaanku dan rasanya senang sekali karena mendapat gaji pertama dari hasil kerja kerasku sendiri. Tapi beberapa menit setelah aku mendapat uang tersebut, ada hal bodoh yang kuperbuat. Saat itu jaman dimana aku sering main Yu-Gi-Oh! dengan teman-teman dan kebetulan temenku yang menawarkan pekerjaan ini punya kartu Yu-Gi-Oh! yang ingin sekali aku beli. Tanpa pikir panjang setelah aku mendapatkan uang dari orangtuanya, diriku ini langsung memberikan semua uangku kepada temanku. Gaji pertamaku lenyap seketika. Ketika aku ceritakan kepada mamaku, mamaku marah karena aku menggunakan uang untuk hal yang tidak penting (penting biar kartuku makin jago). Kalau di ingat-ingat lagi betapa bodohnya aku pada saat itu hahaha.
Dari seminggu ini tentu itu tetap menjadi pengalaman menyenangkan untuk diriku. Setidaknya aku boleh menyicipi rasanya bekerja. Biarpun kerjaanku tidak berat seperti angkat semen dan lain-lainnya. Tapi aku merasakan bahwa untuk mencari uang itu banyak hal yang dikorbankan terutama waktu. Seminggu itu aku hanya habis dengan bermain media sosial di tanganku dan satu-satu orang yang bisa ku ajak bicara saat itu adalah papa dari temenku. Waktu bermain tidak ada dan tentu rasanya membosankan. Tapi dari situlah aku semakin sadar bahwa untuk memperoleh uang apalagi kalau kita sudah punya usaha atau bekerja di kantor nanti. Kita harus siap untuk mengorbankan sesuatu terutama waktu.

Comments