top of page
Search

"Duh pengen keluar aja deh"

Writer: Richard Wijaya
Richard Wijaya
Jul 25, 2021
3 min read

Updated: Jan 25, 2025

Dalam pekerjaan aku beberapa kali mendengar curhatan temen kalau mereka tidak mendapat pekerjaan sesuai keinginan atau passion mereka. Mereka "terpaksa" harus bekerja hal lain supaya mereka tetap dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Tentu temanku yang satu ini berharap bisa pindah dengan segera dan keluar dari "neraka" yang dia tempati saat ini. Tentu mendengar itu aku hanya bisa terdiam dan berkata "sabar bro beberapa bulan lagi, elu bisa keluar". Kenapa tidak keluar segera? Karena dalam dunia pekerjaan, biasanya kantor melihat profile kita bagus kalau kita bekerja dalam suatu perusahaan lebih dari setahun. Dibawah itu biasanya muncul prasangka-prasangka seperti misalnya keluar karena tidak menerima tekanan, drama antar karyawan/bos, atau perusahaan mungkin kira "orang ini bermasalah". Aku tentu tidak tahu secara pasti apa alasannya.


Tapi kalau kau tanya diriku. Aku juga menjalani pekerjaan yang kurang kusukai dan ahkirnya lanjut sampai 1 1/2 tahun, yaitu menjadi barista. Barista bukanlah hal yang ku nikmati. Yah mungkin di awal aku menyukainya karena ini hal baru. Tapi waktu ke waktu hal ini terjawab dari minatku yang kurang sekali terhadap kopi. Tentu sebenarnya tempat yang kutempati ini tidaklah buruk. Justru sangat baik, karena aku dapat bos yang punya tujuan yang idealis yaitu membuat baristanya bisa sampai membuka toko kopi sendiri. Sayangnya aku tidak punya keinginan tersebut. Emang sih saat ini orang berlomba-lomba membuka kedai kopi mereka dan selalu adu" An kopi terenak mereka, biarpun sebenarnya rasa kopi itu subjektif tiap orang berbeda. Namun ketika aku bekerja selama 1 ½ tahun tentu ada struggle yang ku alami yang membuatku ingin keluar dari tempat tersebut. Alasannya simple yaitu karena pekerjaanku ini tidak sesuai dengan passion yang ku ingin lakukan. Karena muncul pemikiranku yang demikian membuatku menjadikan parttime ini sebagai beban dan membuatku resah hari demi hari. Muncullah keluhanku yang sama dengan perkataan temanku untuk ingin keluar dari “neraka” ini. Sebenarnya ini bukanlah neraka tapi cara pikir kita seringkali menjadi pekerjaan-pekerjaan baik ini menjadi tempat yang tidak nyaman. Ketika pikiran ingin keluar terus muncul dalam benakku. Aku lupa bahwa ketika aku keluar, aku tidak punya penghasilan tetap yang bisa untuk mencukupi hariku.


Aku dibutakan dengan keinginanku keluar dari tempat pekerjaanku. Aku dibutakan dengan ambisiku yang tidak jelas akan membawaku kemana. Beberapa lama akhirnya aku berbicara dengan bosku untuk mencoba keluar dari tempat kerjanya. Disitu bosku memberikan pencerahan seperti dimana aku akan bekerja selanjutnya atau planning apa yang sudah kupunya untuk membangun usaha. Dipercakapan itu aku hanya menjelaskan ide-ide idealisku yang tidak pernah terealisasi dan aku menjelaskan apa keinginanku kedepannya. Dari situ aku diberitahu kalau planning yang kupunya ini sepertinya belum siap dan tidak ada kejelasan di masa mendatang. Bosku tidak memaksaku atau menahanku jika aku ingin keluar, tapi setelah dari hasil diskusi singkat itu segala pikiran overthinkingku mulai sirna. Ketika aku menulis ini kembali aku mulai berpikir lagi “Kalau misalnya saat itu aku beneran keluar” Apakah masa depanku akan lebih baik daripada melanjutkan pekerjaan. Jawabannya bisa iya maupun tidak. Tapi buatku jawaban iya dan tidak itu dua-duanya sama baiknnya dan pasti sama-sama ada pelajaran didalamnya namun aku bersyukur untuk tetap melanjutkan pekerjaanku sampai 1 ½ tahun disana. Aku belajar tidak hanya mengenai kopi tapi mengenai cara pikir untuk menyiapkan diri dan keuangan yang baik di masa mendatang nanti. Tentu pekerjaan emanglah melelahkan dan seringkali menjadi bahan keluhan ketika kita sedang beristirahat maupun ngobrol asik dengan teman kita. Mungkin selama aku menjadi barista aku banyak perasaan Lelah karena tubuhku bergerak tidak sesuai dengan passion, tapi aku selalu mencoba menselipkan alasan-alasan sederhana untuk memotivasiku didalam pekerjaanku ini. “Satu pesanan untuk kesenangan di wajah pelanggan” Setidaknya dengan membuat kopi enak bisa membuat setiap pelanggan senang dan menjadi berkat bukan? Kita bisa mengubah mindset kita untuk fokus kepada berkat apa yang bisa kita berikan ke oranglain dan siapa tahu ternyata hal yang tidak kita suka menjadi passion tersembunyi?

 
 
 

Recent Posts

See All
“Cinta Tanpa Syarat”

Pernah dengar istilah ini, nggak? Kata-kata yang terasa seperti omong kosong di era sekarang ini. Apakah mungkin cinta tanpa syarat ini bisa terjadi? Tentu di sekitar kita, bahkan dalam keluarga, bent

 
 
 
Diam

Diam. Itu yang kubutuhkan di beberapa waktu. Diam ini membantuku menyegarkan pikiran, jiwa, dan raga. Diam ini benar-benar diam ya. Maksudku, banyak orang terlihat diam, tapi pikirannya tetap sibuk—ta

 
 
 

Comments


Subscribe Form

Thanks for submitting!

©2020 by richardwijaya. Proudly created with Wix.com

bottom of page