top of page
Search

LARI

Writer: Richard Wijaya
Richard Wijaya
Oct 22, 2022
2 min read
"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." 2 Timotius 4:7

Ketika aku sedang lari di GBK bersama teman kantor, aku teringat dengan satu ayat ini. Perkataan ini muncul ketika santo Paulus memberikan pesannya untuk memberitakan firman Tuhan dengan sikap siap dan sabar dalam menghadapi berbagai persoalan.


Aku membayangkan pada diriku yang sedang berlari dan seolah-olah sedang mengikuti sebuah lomba lari. Lomba yang sebenarnya tidaklah mengharuskan kita untuk berlari dan malah tidak mengharuskan kita untuk mencapai garis finish duluan. Ketika aku berlari perlahan-lahan badanku merasa mulai lelah, mulai terasa ada keluh-keluhan dalam diriku untuk meminta untuk berhenti, serta ada rasa sakit pada beberapa bagian tubuh karena badan ini terus dipaksa untuk berlari tiada henti.


Ketika aku mengurangi tempoku yang dari berlari menjadi berjalan, badanku mulai merasa ada ruang nafas untuk diriku. Seiringnya berjalan aku melihat orang-orang sekitarku yang ada beberapa hanya berjalan santai dan ada juga yang sedang berlari kencang. Melihat orang yang masih kuat lari membuatku ingin ikut berlari kembali. Perlahan-lahan dari lari yang kuanggap menjadi melelahkan perlahan-lahan keluhan itu mulai menghilang, seperti aku sudah mulai terbiasa dengan rasa lelah ini, rasa lelah yang perlahan-lahan tidak menjadi suatu masalah dan justru menjadi semanggat untuk terus kembali lari dan lari.


Perasaan ini membuatku tersadar dan semakin paham dengan analogi-analogi yang orang biasa pakai untuk menjelaskan bagaimana proses hidup orang-orang itu berbeda-beda. Ada orang yang beberapa waktu lamanya asik menikmati waktunya dengan berjalan santai, ada juga yang merasa kurang dengan berjalan terus dan akhirnya memutuskan untuk lari, dan bahkan ada juga yang berenti dulu sejenak dan membutuhkan waktu istirahat untuk waktu perjalanan selanjutnya yang lebih baik.


"Musuh terbesar diri kita adalah diri kita sendiri."

Selain itu mencari teman seperjuangan yang saling mendukung menjadi salah satu strategi baik untuk mendorong kita menjadi versi yang lebih baik. Ketika aku lari bersama satu orang kantor dia berkata, "Kita lari sampai gate 1 yah" Ketika sampai tujuan, "kita lari sampai gate 2 ya". Itu terus berulang-ulang sampai ahkirnya apa yang ku anggap menjadi batasan dalamm diriku ternyata itu hanya pikiran bias yang menjebak diriku.


Ketika diriku siap untuk lari dan perlahan-lahan rasa lelah itu tidak menjadi keluhan, secara tidak sadar aku sudah terbiasa dengan masalah yang kuhadapi dan menjadi kuat ketika ada masalah-masalah selanjutnya perlu kuhadapi. Namun pada ahkirnya, inti dari hidup kita ini adalah bagaimana kita dapat mengakhiri perjalanan hidup kita dengan baik, mencapai garis akhir, dan menjaga iman atau apa yang kita percaya sampai akhir.

 
 
 

Recent Posts

See All
“Cinta Tanpa Syarat”

Pernah dengar istilah ini, nggak? Kata-kata yang terasa seperti omong kosong di era sekarang ini. Apakah mungkin cinta tanpa syarat ini bisa terjadi? Tentu di sekitar kita, bahkan dalam keluarga, bent

 
 
 
Diam

Diam. Itu yang kubutuhkan di beberapa waktu. Diam ini membantuku menyegarkan pikiran, jiwa, dan raga. Diam ini benar-benar diam ya. Maksudku, banyak orang terlihat diam, tapi pikirannya tetap sibuk—ta

 
 
 

Comments


Subscribe Form

Thanks for submitting!

©2020 by richardwijaya. Proudly created with Wix.com

bottom of page